Suasana Hati


Dinar langit menatap bumi dengan tatapan hangat yang tak bisa dielak, menumpahkan cahaya layaknya lembar-lembar surat tak terbaca kepada tanah yang diam dan tak pernah terjamah.

Di bawah langit, bersih dari kabar buruk, pengembara berjiwa muda
berteduh di bawah bayang-bayang utopia,
menggenggam sebatang nyala kecil, mengepul bagai kabut rindu dari dada yang tak sempat pulang.

Secangkir kahwa mengejang retak penuh resah, pekatnya menyerupai kenangan yang tak pantas ditelan, namun terus diminum agar dada tak runtuh di tengah keindahan yang asing.

Hamparan sawah menari mengikuti irama sang bayu, melambai-lambai seperti salam dari rumah yang tak bisa disentuh tangan, sementara burung-burung bersiul nyaring, menyulam siang dengan irama tanpa makna namun memantik gembira bagi jiwa, menjadikan atap bumi terasa bernyawa.

Tempat ini menawan, namun hatinya tetap tertinggal di belakang jendela rumah peradaban, di mana suara kelompok pemuda selalu bertanya akan makna membaca, menulis dan berdiskusi, penuh cinta tentunya., Mengalun seperti ayat, langkah Tertua adalah irama waktu yang kini hanya bisa dikenang dalam bisu. 

Asap terhembus bak menyulam sajak di udara, dalam diamnya, ia menggugat: kenapa huruf-huruf kini lebih sering ditinggalkan daripada diselami? Mengapa suara buku kalah nyaring dari gemerincing perhiasan digital? Jiwa terasa terbelenggu oleh jeruji tanpa besi. 

Ia melihat para dara yang cantik 

namun lebih sering berkaca pada sinar palsu layar daripada mengukir pikir dalam lembar pustaka. Langkah-langkah mereka ringan,
namun terjerat tren yang mengikat lebih kuat dari logika.

Betapa indah wajah ayu melek aksara,
namun kini, langkah layaknya rembulan yang muncul di tengah agungnya surya. Sesekali tersenyum getir, sebab tahu:
keindahan tempat baru ini tak bisa menggantikan makna pulang yang lebih nyata.

Nyala terakhir pun padam, kopi tinggal ampas dan kesunyian. Ia berdiri,
membawa bayangan keluarganya dalam kantung dada, melangkah ke tengah hari yang begitu menyengat namun jujur, kembali menjadi bayang tak bernama, terus berjalan berharap esok ada budaya yang sarat akan makna membaca dan merdeka.

Komentar

Postingan Populer