Mimpi Tuan Kopi
Minumlah kopimu itu kamerat, akan ada banyak cerita disetiap teguknya. Malam akan tetap gelap sekalipun bulan dan bintang tetap bersinar, namun wanita mana yang telah membuat manis wajahmu menjadi murung seolah semua harapan telah hilang, semua usaha telah gagal, dan semua perjuangan tak terbayar? Sambil membuka lembaran koran yang tampaknya sudah usang, veteran perang tua itu kembali berkata, begitulah cinta kamerat. Terkadang kita merasakan guncangan kebahagian tak tertahan dan terkadang pula kita harus menahan sakitnya luka yang mendalam dikarenakan harap yang tak terbalas.
Selepas meneguk kopi yang setelah berjam-jam diantarkan oleh Janda perawan tua bernama Sinah, sontak mantan pemimpin Partai Tani Kopi (PTK) berkata sambil memperlihatkan senyum ringannya, kamu tau apa soal cinta wahai pak tua? Bahkan kamu sendiripun gagal bersetubuh dengan Istrimu sampai kalian berpisah hanya gara-gara sengketa lahan kopi yang hanya sebatas tanah. Serentak mereka berdua tertawa dan disaat-saat tertentu berhenti untuk menarik nafas, dan setiap kali mereka saling tatap, bayang-bayang biji kopi yang dipakai memenangkan pertempuran dengan kompeni kembali terlintas, sampai suasana sore itu menjadi lebih tenang tanpa memikirkan luka dari wanita yang dikenalnya baru sepekan.
Wajahnya yang mungil dengan mata berbinar, bulu mata halus melengkung keatas bagaikan pelangi ditengah cerahnya langit, senyumnya yang manis membuat wajahnya tampak semakin cantik, namun sayang dia keturunan konglomerat, sementara kamerat tua itu hanyalah mantan prajurit yang sekarang bekerja sebagai petani kopi dengan ditemani palu dan arit sebagai simbol pembangunan dan pertumbuhan pangan. Itulah kesan pertama mantan ketua Partai Tani Kopi sekaligus mantan veteran perang yang berhasil merampas kembali lahan kopinya dengan biji kopi. Saat ini usianya genap dua puluh tahun, hanya saja segala harapan dan impian digantungkan pada tahun bukannya Tuhan. Itulah manusia selalunya berbeda dengan mereka yang beriman, yang segala sesuatunya dipasrahkan pada Tuhan. Sementara mereka telah dibekali pikiran untuk menentukan benar dan salah termasuk dalam konteks Ketuhanan. Sekalipun diketahui iman dan takwa hanya pada Tuhan tapi sekian kali pengharapan itu digantungkan pada ciptaan yang pada akhirnya kekecewaan tak dapat terelakkan.
Bukannya butuh istirahat untuk menenangkan jiwa karena dengan kondisi saat ini orang-orang yang berjuang telah gila. Tapi sepertinya bukan mereka yang berjuang yang gila, tapi dunia yang mereka hadapilah yang gila. Kegilaan itu beragam, ada yang gila Politik, gila Materi, gila kuasa, dan bahkan gila status, tapi sayangnya kurang dari mereka yang gila akan hukum, segalanya ingin didapatkan bahkan sampai dengan meniadakan Keadilan. Sementara yang patut untuk diperjuangkan bukanlah status sosial yang naik dengan tingginya kekuasaan yang didapatkan oleh orang-orang yang berpolitik bersamaan dengan kompetisi adu materi bukannya kompetisi adu naluri. Sudahlah substansi dari kehidupan Dunia Akhirat kan Bahagia dan Selamat. Di dunia bahagia dengan kenikmatan dan selamat dari kemelaratan, begitu pula di Akhirat, bahagia dengan nikmatnya surga dan selamat dari siksa neraka.
Sekalipun itu semua didapatkan dengan cara-cara melawan hukum toh hukum saat ini tidak lagi dibutuhkan. Mereka bertanya kenapa hukum tidak lagi dibutuhkan? Maka yang lain menjawab karena sejatinya yang dibutuhkan saat ini adalah uang. Kita butuh uang, era kompeni memang sedikit gila. Berbeda dengan zaman sekarang yang orang-orangnya pada tertib hukum semua, tidak ada hak yang dilanggar, manusia satu menghormati manusia lainnya, penguasa menjalankan kuasanya secara murni dan konsisten, ditambah lagi tidak ada Penindasan atas Penguasa dengan Rakyat sipil karena sejatinya Kemanusiaan yang adil dan beradab yang didistribusikan kepada seluruh rakyat itu telah terpenuhi.
Selamat malam kamerat, semoga mimpimu menjadi nyata.

Komentar
Posting Komentar