Memaknai Cinta Yang Demokratis
Aku bermain hujan dihari rabu tanpa mengenang sendu tapi hanya bermain dibawah rintik rindu. Seseorang pernah mendengar dilan berkata bahwa rindu itu berat, namun apalah artinya rindu jika semua terbalas dengan kebencian hebat. Aku ingin menjadikanmu penguasa diatas cinta yang sama sekali tak terbaca.
Namanya selalu terbilang dari, oleh, dan untuk kesunyian tanpa mengharapkan sebuah balasan. Aku adalah aku dan saya adalah saya tidak akan pernah menjadi yang lain, meskipun ada cinta begitu besar namun kenyataan tidak untuk dilawan. Hanya perlu satu hal untuk membuat seseorang dapat sadar, yaitu bahwa dalam memupuk kedamaian tidak dengan cinta tanpa balasan. Aku masih mengingat nasib pohon ketapang dalam buku cantik itu luka. Ia merupakan korban dari ganasnya cinta seorang veteran perang terhadap kecantikan alamanda. Gadis pujaanku juga begitu sangat cantik, bak sebuah bunga mawar yang tumbuh ditengah-tengah tandusnya ladang. Aku hanya berharap untuk ia tetap bertahan dalam keringnya padang ini.
Yaaa begitulah keadaan, semua orang memiliki cinta namun tidak semua cinta terbalaskan. Ibarat sebuah negara modern. Semua negara modern menerapkan demokrasi, tapi tidak semua pemilihan berjalan secara demokratis. Dalam pemilihan presiden misalnya, aturan pemilihannya mengamanatkan agar pemilihan dilaksanakan secara kompetitif, langsung, umum, bebas, rahasia, jujur dan adil. Namun jika bakal calon presiden atau wakil presiden telah memiliki kekuasaan, entah kekuasaan yang bersumber dari Tuhan, rakyat atau ayahnya atapun pamannya dan digunakan untuk mendapatkan legitimasi sebagai presiden atau sebagai wakil presiden menggunakan berbagai macam cara dengan basis kekuasaan yang ia punya, misalnya mengubah aturan main pemilihan atau menjadi calon tunggal dll. Maka pemilihan tersebut dapat dikatakan tidak demokratis. Juga penerapan yang demikian tidak menggambarkan konsep demokrasi melainkan monarki.
Jika kekuasaan itu hanya dijalankan oleh oleh orang-orang atau kelompok-kelompok tertentu saja itu adakah oligarki, jika kekuasaan itu hanya dijalankan dan diturunkan kepada keluarga serta kerabat itu adalah monarki, dan apabila cinta itu hanya dimiliki oleh satu subjektum litis maka itu akan memicu terjadinya sakit hati.
cinta yang ia punya saat ini tidak terbalaskan bisa saja karena cinta itu tidak terbaca dan cinta tidak terbaca itu karena tidak ada kekuasaan dan kekuatan untuk memberikan bukti dalam bentuk nyata. Itulah sebabnya dalam pemberian cinta yang dapat terlegitimasi harus ada tindakan nyata terlebih dahulu untuk membuktika bahwa benar ada rasa cinta sebab "cogitationis poenam nemo patitut" "jika dalam literatur hukum kalimat tersebut dimaknai dengan "seseorang tidak dapat dihukum atas apa yang dipikirkannya" maka aku memaknainya dengan "seseorang tidak dapat membuktikan ada rasa cinta sebelum dinyatakan". Meskipun demikian aku akan tetap menjadikan dirinya seperti hujan diantara dua tujuan Datang dengan membawa kenangan Atau pergi untuk lupa dan melupakan. Lagi pula aku tahu bahwa mencintai tanpa dicintai adalah racun, aku telah membunuh perasaanku dengan menanamkan cinta pada wanita yang kupuja bukannya sang pencipta.
Sulit bagiku untuk memaksakan cinta ini berjalan secara demokratis dimana tidak ada jeda bagi cintu itu untuk melegitimati kekuasaan dan perasaan, dengan kata lain rasa itu dianut oleh, dari dan untuk semua pihak. Namun sayangnya seseorang harus menerima bahwa cinta tanpa balasan adalah kekuasaan tanpa pemilihan yang terlimitasi. dan hal tersebut hanyalah angan-angan pun jika pemilihan dilakukan tanpa batasan dapat memicu terjadinya kesewenang-wenangan.
Dari sekian banyaknya ruang untuk bersuara aku lebih memilih berteriak dalam aksara.

Komentar
Posting Komentar