Hujan Bulan Juli

Pada hujan bulan juli dalam kesendirian saya tertawa bagaikan orang dengan gangguan jiwa. Setiap titik rintik hujan bulan juli ini seakan ingin menyaingi paras dan pesona bunga yang telah mekar pada bulan hujan ini . Tak ada luka yang mengandung cerita tentang dia, karena dia bukan pendekar yang senantiasa membawa Palu dan arit, ataupun preman kampung yang selalu meminta jatah di pasar pada pedagang-pedagang kecil, tapi entah kenapa bagaikan ada rasa yang telah dicuri oleh dia.
.
Tapi dia adalah unsur yang telah membawa sengketa antara hati dan akal - jiwa dan raga.
Patah hati terbesar disaat saya tidak lagi mengenal siapa Tuhanku, dikarenakan ciptaan-Nya yang indah juga kucinta. Tak ada harap cinta itu terbalas
Tapi satu yang pasti bahwa kita akan berpisah karena kita tak bisa bersama atau suatu saat kita dapat bersama dan pada akhirnya kita akan berpisah entah karena mengejar cita-cita atau karena rekayasa dari Sang Pencipta.
.
Jika aksara tak bermakna itu adalah saya
Dan tulisan yang selalu kubaca itu adalah kamu, akan kepastikan bahwa kamu akan tetap menjadi kata dengan sejuta makna, meski akal berbicara berbeda.
.
Semesta memiliki cara tersendiri untuk mewarnai hidup ini. Sudah bukan saatnya lagi membicarakan Tuhan itu ada atau tidak, kita akan bersatu atau berpisah, lebih-lebih didepan jelas-jelas terlihat penindasan dan kemiskinan.
.
Menjadi manusia itu jangan terlalu banyak mengeluh, banyak-banyaklah bersyukur karena tidak ada satu alasanpun untuk tidak bersyukur, dan nikmat Tuhan manakah yang telah kamu dustakan? Kita bisa saja berdusta pada diri sendiri atau orang lain, tapi tidak dengan Tuhan yang Maha Tau. Yang menciptakan segalanya dengan berpasang-pasangan, kaya-miskin, susah-senang, rajin-malas, raja-ratu, masalah dan solusi, yang dimana atas penciptaan itu semua memiilki makna dan maksud tertentu, bisa saja apa yang kita dapatkan hari ini merupakan balasan atas apa yang telah kita perbuat sebelumnya.
.
Jadi untuk apa mengeluh? Mengeluh tidak menghadirkan solusi, jika ada banyak permasalahan yang datang secara bersamaan itu merupakan rahmad untuk kita terus bersyukur yang dimana kita masih diberi waktu untuk mengetahui kesalahan kita dan memperbaiki apa yang harus diperbaiki, mengubah apa yang harus dirubah.

Cerita tentang dia akan berakhir.
Nanti.
Bukan sekarang..

Mungkin ketika kita bersama cerita tentang dia akan hilang dan tergantikan dengan cerita tentang kita.
Dipertemukan dengan dia merupakan suatu rahmad yang patut untuk disyukuri. Tak akan ada luka yang lahir karena manusia, jika ada mungkin karena hati yang telah terlena dan tenggelam serta kesadaran tidak lagi pada Sang Pencipta, tapi pada apa yang telah tercipta.

Komentar

Postingan Populer