Kontekstualisasi Nilai-nilai Islam dalam Wacana Sosialistis : Solusi atau bukan ?
Kontekstualisasi Nilai-nilai Islam dalam Wacana Sosialistis : Solusi atau bukan ?
Adam Tri Saputra (Kader HMI FITK UHO)
Sebagai pedoman hidup Umat Islam, Al-Qur'an tidak semestinya dipandang sebagai hal baru dalam merekonstruksi wacana sosialistis, melainkan kesempurnaan yang telah melalui beberapa tahapan penurunan hingga pada waktunya diakhiri oleh Muhammad. Al-Qur'an telah memberikan panduan yang lengkap tentang seperangkat pilar untuk menuntun manusia dalam mencapai tujuan hidup. Baik dalam konteks individu, maupun dalam konteks sosial.
Didalamnya secara komprehensif disuguhkan konsep perjuangan melawan sistem kapitalisme, mewujudkan solidaritas kemanusiaan, melawan penindasan, menghapuskan perbedaan kelas, dan menciptakan kesetaraan antar manusia.
Bentuk konkret dari konsep ini adalah pelaksanaan ibadah zakat, infak, dan sedekah. Sebagaimana yang telah lama dipraktekkan oleh Nabi (Muhammad).
Tak hanya itu, Islam juga secara tegas meletakkan posisi rakyat yang tertindas sebagai pihak utama yang patut dibela, dilindungi, dan diperjuangkan.
Dengan demikian, secara sadar, kita mesti mengakui bahwa Islam telah lebih dulu merealisasikan konsep sosialisme dengan tujuan menegakkan keadilan dan mewujudkan persamaan, dengan tidak mengesampingkan sisi individual manusia dan secara normal mengakui kepemilikan pribadi. Sebelum kemudian Marx memunculkan teori kelas, serta menggagas revolusi bolshevik yang pada akhirnya dimanifesto oleh Lenin pada Oktober 1917.
Eko Supriyadi : Sosialisme Islam (Pemikiran Ali Syariati, 2012 : 100-108).
Sehingga penulis (Adam), secara subjektif menyimpulkan bahwa kontekstualisasi Nilai-nilai Al-Qur'an (sebagai referensi utama ajaran Islam) dalam kehidupan sehari-hari, bisa menjadi solusi yang tepat dalam wacana perubahan, kesetaraan, dan kesejahteraan manusia dewasa ini.

Komentar
Posting Komentar