Manusia dengan segala kesalahnnya.
Banyak waktu yang terbuang hanya untuk menikmati kesenangan, semua orang tahu bahwa untuk mencapai segala tujuan harus diimbangi dengan semangat perjuangan dan niat kemanusiaan. Langkah awal dalam kesenangan tidak cukup jika hanya terbungkus dalam kata-kata disosial media. Bahkan itu tidak mencerminkan semangat perjuangan yang bernafaskan reformasi pendidikan.
Pramudya ananta toer berpesan dalam novel monumentalnya berjudul bumi manusia "Sebagai seorang terpelajar sudah harus berlaku adil sejak dalam pikiran". Kata adil yang dimaksut tentunya ada keseimbangan antara ide perbuatan, keselarasan antara tujuan semangat perubahan. Setiap orang tentu mendambakan kehidupan yang bertabur kebahagiaan, namun tentu saja tidak dapat dinafikan bahwa keseimbamgan hidup terlihat pada adanya hal baik dan hal buruk. Kesuanya dapat saling mendominasi tergantung niat dan tujuan serta taburan nilai-nilai pencapaian tujuan yang terlihat dalam semangat perjuangan. Jika hal baik mendominasi hal buruk tentu dapat berimplikadi pada terwukudnya kepribadian yang baik pula, begitupun sebaliknya jika hal buruk mendominasi hal baik maka perangai yang tercipta bisa saja keburukan. Celakanya adalah kerap kali kita jumpai ada beberapa yang bahkan tidak sadar bahwa interaksinya dengan entitas lain merupakan suatu keburukan dan bahkan dijadikan sebagai suatu kelaziman.
Tentu untuk menanggulangi hal-hal tersebut tidak perlu menutup mata dan membuka hati, jika dibiarkan dapat menjadi normalisasi keburukan dan itu tentu berbanding terbalik dengan cita pendidikan di Indonesia, yang oleh Suwardi Suryo Ningrat membaginya menkadi tiga golongan yaitu 1. Ingarso sung tolodo (didepan memberi teladan), 2. Ingmandya mangunkarso (ditengah ikut membangun atau melaksanakan), 3. Tut wuri
Handayani (dibelakang ikut mendorong kearah kemandirian). Itulah pesan petuah kita dibidang pendidikan, namun tidak jadi masalah jika ditafsirkan untuk terimplementasi dalam berbagai aspek kehidupan seperti sosial, ekonomi, hukum, dll.
Beberapa hal diatas merupakan konsep perimbangan kebaikan dan keburukan, berkenaan dengan hal tersebut eka kurniawan berpesan dalam novelnya berjudul cantik itu luka "dunia ini seimbang, jika kamu hanya melihat pada sisi deritanya saja itu artinya kamu sakit dan jika kamu hanya melihat pada sisi senangnya saja itu artinya kamu gila". Tentunya tidak dapat disalahkan jika beberapa orang hanya melihat pada salah-satu dari kedua bentuk perbuatan diatas, karena pada sasarnya setiap orang hanya ingin bahagia dan selamat. Bahagia dengan segala kesenangan dan selamat dari segala bentuk penderitaan.
Namun lagi-lagi saya belum mendapatkan jawaban atas kebiasaan dari pemberian ucapan selamat ulang tahun melalui sosial media, apakah itu sebagai pengejewantahan bahwa orang-orang memiliki banyak teman atau beberapa memiliki hubungan baik pada beberapa teman. Ataukah hanya sebatas ucapan selamat atas usianya yang telah bertambah. Namun soekarno berpesan bahwa umur adalah satu-satunya hal yang apabila bertambah maka jumlahnya akan semakin sedikit.
Dan Bagiku tidak ada cara terbaik merayakan hari lahir selain mengucapkan "Maaf Ibu."

Komentar
Posting Komentar