Sang Pujaan

Pada tanggal 30 januari 2004 di salah-satu wilayah kecamatan watopute lahir seorang anak laki-laki ditengah-tengah keluarga sederhana yang minim finansial namun kaya akan kasih dan sayang. Dibesarkan dengan belaian kasih seorang ibu serta perjuangan tangguh laki-laki buta huruf namun tak pernah pupus cintanya disetiap langkah kehidupan penuh kepedihan. Tahun 2009 anak kecil tersebut memulai langkahnya memasuki pelataran pendidikan di taman kanak-kanak, sebagaimana anak-anak pada umumnya waktu belajar dihaniskan untuk bermain, karena tepat ditengah-tengah sekolah kanak-kanak tersebut tumbuh sebuah pohon beringin besar yang dulu ia dan kawan-kawan menjadikannya sebagai tempat bermain yang paling menantang karena konon katanya pada malam hari selalu ada gadis berambut panjang berjubah putih yang duduk menangis tepat dibawa pohon tersebut yang disetiap paginya dijadikan sebagai wahana bernain anak tersebut beserta kawan-kawannya😂.

Mulai dari akarnya yang dijadikan sebagai alat gelantungan, sampai batangnya yang dijadikan tempat persembunyian pada saat main gobe (petak umpet) kalau bahasa jakselnya😂. Entah apa yang dipikirkan anak-anak itu sampai berani mengambil resiko bermain di pohon beringin.

Tahun 2010 ia mulai menduduki bangku sekolah Dasar, sempat malas ke sekolah karena merasa sudah cukup paham dengan pelajaran yang diberikan, karena pelajaran dikelas 1 hanya persoalan hitungan serta perkenalan huruf dan itu ia sudah dapatkan sebelum memasuki taman kanak-kanak yang tentunya itu semua didapatkannya dari ajaran ibu. Ia ibu, sang guru pertama bagi anak-anaknya. Alasannya untuk tidak ke sekolah bermacam-macam mulai dari tidak melihat dasi yang ternyata ia sembunyikan didalam tas miliknya, sampai sepatunya yang hilang sebelah dan ia bilang kalau sepatunya dicuri tikus padahal ia kuburkan dibawah pohon pisang belakang rumah😂😂. Kalau dipikir2 ternyata dari dulu sudah pintar bohong pale.

Tahun 2016 mulai mengenakan pakaian putih biru dan mungkin tidak perlu saya tuliskan disini pengalaman certa kejadian2nya, nanti dilain waktu dan tempat.

Masuk 2019 masa SMA kalau orang2 bilang  proses pencarian jati diri , disitu ia mulai mengenal beberapa hal yang sempat mengubah pandangannya persoalan pendidikan dan tidak perlu saya ceritakan juga. 

2022 menjadi mahasiswa baru di fakultas hukum uho, ada banyak dinamika serta gertakan akan kebencian dari beberapa kalangan. Selang beberapa minggu setelah menjadi mahasiswa baru ia ditawarkan mengikuti lomba debat oleh letingnya sendiri dan diajak setim dengannya, tentu kesempatana itu diterima tanpa ada pikir panjang yang ternyata pada kesempatan itu juga ia mengambil keputusan tanpa sepengetahuan teman setimnya, dan keputusan itu pula bukan main2 bahkan mempertaruhkan harapan benerapa pihak, ceroboh memang tapi itu juga yang menjadi bahan evaluasi untuk bertindak bahkan sampai sekarang. Sempat ada sedikit kecewa terhadap diri sendiri, tapi kalau mau dipikir2 mau sampai kapan begini terus? Ya segalanya harus dirombak dengan mengorbankan waktu, tenaga, materi dan cinta jika itu ada. 

Biarlah bunga itu tetap mekar bersama akarnya dan biarlah aku menjadi tanah yang senantiasa menopang akarnya sampai kuncup mekar dimiliki kumbang pujaannya.

Mungkin kamu bisa bertemu dengannya tapi tidak untuk mengambil hatinya. 

Komentar

Postingan Populer