Apa itu ada?

Darmon.blogJika seseorang bertanya untuk apa kita percaya akan adanya Tuhan? Jika seseorang bertanya apa yang mendasari dirimu yang kemudian mempercayai dan meyakini adanya Tuhan yang bahkan oleh inderamu sendiri tidak dapat dikau rasakan, tidak dapat dikau lihat, tidak dapat dikau raba. Lantas dia berkata jika ingin meyakini dan mempercayai sesuatu minimal tidak apa yang kita percaya dan yakini itu dapat kita inderai, dapat diterima dengan rasio, serta kemudian barulah kita yakini dengan hati (kalbu). Tapi sebelum itu harus kita tahu dahulu apakah yang kita yakini dan percayai itu ada? Apakah yang ada itu berawal dari ketiadaan? Apakah sesuatu yang ada itu berawal dari sesuatu yang ada? Ataukah sesuatu yang ada itu dapat menjadi tidak ada? Jika sesuatu yang ada pada akhirnya dapat menjadi tidak ada, lantas untuk apa sesuatu yang ada itu diadakan?. Saya akan kembali lagi ke pertanyaan awal, apakah ada itu? Ya.. betul saja ada merupakan sesuatu yang kita pikirkan dan dapat kita inderai. Tapi jika sesuatu yang dapat kita pikirkan dan dapat dindrai, lantas bagaimana bisa kita kemudian mempercayai sesuatu yang tidak dapat di inderai? Apa artinya seseorang dewan defininisi ada yang telah kita sepakati sebelumnya tidak percaya akan adanya Dia yang Ada? Jika tidak, itu artinya harus kita rubah dahulu definisi kita! Ataukah kita harus mencari kausa kenapa definisi kita tidak dapat mencapai titik tertinggi? Apa itu karena fitrah manusia yang serba terbatas? Jika benar manusia yang sifatnya segala terbatas lantas untuk apa mempertanyakan Dia yang tidak terbatas? Kendati bukan urusan manusia membicarakan Tuhan itu ada atau tidak ada, apalagi dihadapanmu jelas-jelas terlihat kemiskinan dan penindasan. Fokuslah  pada kodratimu sebagai bangsa Indonesia yang mengidealkan serta mengidolakan cerdasnya kehidupan bangsa untuk kemudian memberikan kesejahteraan sebanyak-banyaknya bagi warga yang sebanyak-banyaknya dengan mengombinasikan tiga kecerdasan yang melekat pada potensi setiap manusia, tiga kecerdasan itu adalah Kecerdasan Emosional (EQ), kecerdasan spiritual (SQ), serta kecerdasan intelektual (IQ), dan setelah kita mampu mengombinasikan tiga kecerdasan itu maka akan lahir satu kecerdasan baru yang dinamakan dengan "Kondisional". Penting bukan menjadi seseorang yang memiliki kecerdasan? Tapi sejatinya setiap manusia memiliki kecerdasan yang berbeda-beda.

Kembali ke pembahasan awal terkait cara kita mengindrai dia yang Ada dengan indera kita yang terbatas, disini saya hanya akan memberikan perumpamaan (analogi). Jika anda tidak dapat melihat hutan yang jauhnya 5KM dari ruangan tempat anda duduk itu karena pandangan anda terhalang dengan objek disekitar anda. Dan jika beranjak 5km atau tepat di temlat hutan itu ada, maka secara langsung anda akan dapat melihat hutan itu, maka disitulah eksistensi daripada mengindrai. Tapi bagaimana jika hutan itu tidak dapat kita lihat setelah berjalan 5km yang ternyata hutan itu berjarak 6km? Kita tetap dapat mengetahui bahwa hutan itu ada karena kita bisa bayangkan seperti apa hutan itu didasari pada kita yang pernah melihat hutan itu, maka inilah nilai dari rasio. Tapi bagaimana jika kita yang begitu kecil sehingga tidak dapat melihat Dia Yang Ada itu? Sama halnya seekor semut yang berjalan atau hidup di punggung gajah, dia sama sekali tidak sadar atau bahkan tidak tahu seperti apa gajah itu? Seberapa besar gajah itu? Sementara dia hidup dan berkembang di tubuh gajah itu. Seperti itulah kita yang karena memiliki keterbatasan sehingga tidak dapat melihat yang tak terbatas?

Untuk catatan selanjutnya akan hadir beberapa pekan kedepan. Dan terimakasih telah membaca sampai sejauh ini๐Ÿ‘๐Ÿ™๐Ÿ™

Komentar

Posting Komentar

Postingan Populer