Pada Akhirnya Semua Akan Mati
Hanya pada saat-saat tertentu kebingungan ini datang dan mempertanyakan berbagai kejanggaan didalam beberapa lini kehidupan yang samasekali tidak memacu pembangunan untuk mengejar ketertinggalan akal, ekonomi dan bahkan kekuasaan.
Sejatinya untuk dapat serta mampu menguasai peradaban harus dapat memahami dan menguasai hati wanita, sekalipun didalam Q.S Yusuf ayat 28 sudah disebutkan bahwa sesungguhnya tipudaya wanita sangatlah dahsyat. Tidak dapat pula kita nafikan bahwa revolusi selalu hadir bersama wanita yang senantiasa melahirkan, membesarkan, dan mendidik putra-putrinya sampai kemudian melahirkan Revolusi.
Eksistensi manusia didalam kehidupan menduduki tingkatan tertinggi dalam golongan binatang sementara secara rohani manusia menduduki tingkatan terendah pada tataran malaikat. Manusia pada galibnya memiliki keistimewaan yang pantas untuk dipertahankan dan dilestarikan sama halnya bunga yang miliki putiksari yang menjadi sumber kehidupan bagi lebih untuk membuat madu, begitu pula manusia akan selalu menjadi sumber kehidupan bagi manusia lainnya meskipun kita tahu bahwa diatas dari itu adalah kehendak Sang Penguasa.
Kehidupan dan kelangsungan negeri ini tergantung dari wanitanya. Wanita adalah tiang negara, jika baik wanitanya maka baik pula negaranya dan jika rusak wanitanya maka rusak pula negerinya. Pemuda dan masyarakat acapkali mengabaikan peran wanita dalam kehidupan dan bahkan sampai membatasi peranannya didalam pemerintahan, tetapi itu juga merupakan atensi dari maskulin terhadap wanita bahwa urusan domestik itu sama pentingnya dengan urusan pemerintahan yang dimana sungguh memberatkan para wanita jika urusan dapur dan kantor dikerjakan dengan waktu yang bersamaan.
Yang pada akhirnya semua urusan yang ada baik yang dikerjakan oleh wanita ataupun laki-laki akan berakhir dengan satu ucapan perpisahan yaitu "Selesai". Selesai karena usia yang telah usai ataupun Selesai karena kehidupan yang memang telah usai. Berakhirnya kehidupan akan menjadi penanda bahwa manusia pernah ada dan pernah hidup berdampingan dengan binatang, walaupun berbeda dengan yang disampaikan oleh aristoteles bahwa manusia adalah binatang yang berfikir, "animal rasio".
Dengan rasio atau tidak manusia tetaplah manusia bukan binatang, tapi jika perlakuan manusia tidak menunjukkan bahwa dia adalah manusia dikarenakan rasio yang menguasainya atau karena rasio yang ada digunakan untuk kepentingan perut dan kelamin susah baginya untuk meyakinkan manusia lainnya bahwa dia adalah manusia bukanlah binatang ataupun binatang yang berfikir.
Perlu untuk diketahui bahwa hidup hanya sekali jangan mati tanpa arti apalagi mati dengan sakit hati, karena sejarah dunia tidak kekurangan cerita tentang orang-orang yang mati karena patah hati sama halnya dengan kisah Ramayana dan Mahabharata.
Jangan berlarut-larut dalam kesedihan hanya persoalan belum makan karena fakir miskin dan anak-anak yang terlantar sejatinya dipelihara oleh negara dan jangan takut akan kekurangan pangan karena pada dasarnya bumi, air dan kekayaan alam yang terkandung didalamnya dikuasai oleh negara dan rakyat adalah bagian dari negara.
Hidup hanya sekali dunia ini akan Berakhir jika waktunya tiba dan jangan takut jika Benar.

Asli kaka temong eee
BalasHapus